STREET CULINARY

Sate enak bikin nagih!

STREET CULINARY

Nasi Goreng Pak Thole Patut Diacungkan Dua Jempol!

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, September 21, 2014

JAKARTA REPOSE PROJECT #4

Ismet - 28 tahun

                Masyarakat Jakarta pada umumnya kurang bisa memanfaatkan taman yang ada di Jakarta, sering kali taman yang ada di Jakarta kurang dapat menarik sebagian besar warga Jakarta. Mereka merasa taman tersebut kurang nyaman karena dipenuhi oleh banyak sekali pedagang kaki lima, taman yang tidak terurus, dan banyak sampah. Hal-hal tersebut yang kerap kali semakin menjauhkan warga Jakarta untuk menghabiskannya di taman-taman yang ada disekitar kota Jakarta. Jika berbicara tentang taman, mungkin pria bernama Ismet dapat dikatakan sebagai ahlinya. Ismet, pria yang lahir pada 3 april 1986 ini sehari-harinya bekerja sebagai tukang taman di salah satu apartemen di Jakarta Selatan. Setiap harinya Ismet selalu bekerja membersihkan dan mengurus taman, mulai dari menyapu bersih-bersih, membersihkan bunga-bunga yang jatuh, mengambil daun-daun kering, menyiram, hingga memberikan pupuk bagi tanaman menjadi kegiatan rutin yang biasa ia jalani. Ismet pun berhasil membuat taman tersebut diminati bagi setiap penghuni di apartemen tersebut. Tidak jarang setiap pagi dan sore banyak pengunjung yang datang ke taman tersebut hanya untuk sekedar duduk santai dan jogging. Pria berusia 28 tahun ini sangat menikmati pekerjaannya, ia merasa senang karena dapat mengurusi taman karena sebenarnya Ismet pun merupakan orang yang menyukai tanaman.  Bekerja mulai dari pukul delapan pagi hingga 4 sore membuat sering kali Ismet merasa lelah, namun pria yang mengaku sudah hampir satu setengah tahun bekerja sebagai tukang taman ini lebih banyak menikmati pekerjaannya dibandingkan dengan rasa lelah yang sesekali dirasakannya. Ia pun merasa pekerjaannya ini dapat memberikannya ilmu yang banyak tentang tanaman.

            Pria yang bertempat tinggal di kampung sawah – Ciputat, Jakarta Selatan ini merasa waktu luang sangatlah penting “waktu luang penting untuk istirahat” ujarnya menjelaskan pentingnya waktu luang bagi dirinya. Dalam mengisi waktu luang, Ismet lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah. Hal tersebut dikarenakan sejak 2 tahun lalu Ismet hobby dengan burung, sehingga waktu luangnya sering dihabiskan untuk membersihkan dan bermain bersama burung-burung peliharaannya. Pria yang sangat menggemari burung kenari ini mengaku rutin datang ke kontes-kontes burung yang diadakan setiap  satu minggu sekali di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ismet mengaku ia selalu menyisihkan sedikit uangnya untuk melakukan aktivitas yang ia sukai. Sebagai orang Jakarta asli, Ismet mengaku tidak begitu menyukai tempat-tempat yang ada di jakarta. “Engga ga suka, saya lebih suka daerah pegunungan karena adem” paparnya menjelaskan alasannya ketika ditanya mengenai tempat yang ada di Jakarta yang paling ia sukai. Suasana Jakarta yang terik ditambah dengan kemacetan Ibu Kota Jakarta yang semakin hari semakin parah ini menjadi faktor utama pria satu ini untuk lebih memilih tempat di luar jakarta seperti Bogor, Puncak, hingga Anyer.

Ismet sendiri lebih memilih lokasi gunung atau pantai sebagai tempat untuk menghabiskan waktu luangnya. Meskipun pergi ke pantai tidak setiap bulan ia lakukan, ia mengaku setiap satu tahun pasti pergi ke pantai. Alam memberikan suasana tenang dan tidak bising jika dibandingkan dengan kota jakarta. Jujur dikatakan Ismet, semakin lama ia sudah tidak dapat merasakan suasana tenang dan nyaman di Jakarta “Jakarta tau sendiri, mau ke ancol juga udah gaenak, ga tenang” ujarnya. Pada usianya yang terbilang tidak muda lagi, Ismet saat ini lebih memilih tempat dengan suasana yang lebih tenang seperti alam. Pria yang mengaku paling senang dengan lokasi pantai ini mengaku senang ke pantai karena dapat melihat pemandangan yang luas dan dapat menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Pergi ke pantai dan mencari suasana baru dirasa penting untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatannya dengan suasana di Ibu Kota. Selama menjalani waktu luangnya ke pantai tidak ada pengalaman buruk yang dirasakan oleh pria satu ini, karena menurutnya ia selalu senang jika berada di pantai. “Lebih enak malem, karena lebih dapet suasanya. Kalo siang gersang, panas, bising” paparnya menjelaskan suasana pantai yang ia senangi.

Pria yang memilih sepeda sebagai transportasinya ini sering berpergian ke anyer dengan menggunakan sepeda. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 4 jam ini ia tempuh dengan sepeda bersama dengan teman-temannya. “Ke Anyer saya naek sepeda. Ke Anyer, Bogor, Ciawi, sampe Puncak pun pernah touring rame-rame naek sepeda” ucapnya. Pengalamannya pergi ke anyer dengan kelima belas temannya itu menambah deretan pengalaman menyenangkan selama ia melakukan aktivitasnya tersebut.  Setiap tahun baru ia pun selalu menyempatkan dirinya untuk ke pantai atau ke puncak dengan sepedanya. Ia lebih memilih menggunakan sepeda atau motor dibandingkan dengan naik bus karena dengan sepeda atau motor ia dapat lebih mendapatkan suasana serta pemandangan yang indah selama di perjalanan. “Dibanding naik motor, mendingan naik sepeda karena senengnya beda” tambahnya untuk menjelaskan alasannya tetap menjagokan sepeda sebagai transportasinya pergi ke pantai. Pria yang mengaku selalu senang pergi ke pantai bersama teman-temannya ini paling tidak suka jika pergi ke pantai seorang diri karena menurutnya suasana yang didapatkan tidak akan menyenangkan tanpa teman-temannya tersebut. Alasannya pun cukup sederhana “ke pantai suasana rame-rame bareng temen yang di cari, kalo sendiri gaenak. Kalo pantainya rame tapi sendiri kan bete”. Tidak hanya ke pantai menggunakan sepeda, pengalamannya menyenangkan lainnya juga pada saat berada di pantai tanjung pasir dan tanjung lesung karena lebih nyaman berada di pulau. Ia pun menyangkan akomodasinya untuk sampai ketempat itu karena untuk nyebrang di pulau tersebut masih sangat minim hanya dengan menggunakan perahu layar.

            Pria yang setiap satu bulan sekali mengadakan arisan keluarga ini mengaku jika ada tempat di Jakarta yang paling sering ia datangi ialah pameran tanaman. Pameran taneman merupakan satu-satunya tempat yang paling ia sukai, karena bisa bertukar pikiran mengenai tanaman. Ismet pun selalu rajin mengunjungi pameran tanaman yang diadakan setiap 3 bulan sekali ini. “ Saya sih pengen tau perkembangan taneman aja, apa yang lagi bagus” menjelaskan alasannya datang ke pameran tersebut. jujur dikatakannya ia sangat tidak memiliki ketertarikan kepada pusat-pusat perbelanjaan yang ada di jakarta. Ia pun merasa heran karena orang jakarta yang lebih tertarik dengan mall. Pria yang hobby dengan binatang ini, tidak jarang diajak temannya untuk memancing di Pertamamina, Pondok Pinang. Tidak sedikit hasil pancingannya yang ia bawa untuk dipelihara. Ismet mengaku bahagia itu sebenarnya sederhana, hanya dengan bermain bersama binatang peliharaannya dapat membawa suka dan menghilangkan duka bagi Ismet.

            Menurutnya perkembangan kota jakarta semakin baik, namun semakin kesini ia sudah tidak dapat menikmati objek-objek wisata yang ada di Jakarta seperi Ancol, TMII, Monas, atau bahkan Ragunan. Faktor kemacetan jakarta juga salah satu faktor yang menyebabkan Ismet malas berkunjung ke tempat wisata. “kadang-kadang kalo mau kesana mesti makan waktu setengah hari, sampe sana udah tinggal lelahnya aja” ujarnya menjelaskan alasannya tidak suka datang ke objek wisata sekarang ini. Ismet pun membandingkan kota Jakarta dahulu dengan sekarang. Ia mengaku dulu ia sering pergi ke monas menggunakan sepeda, namun sekarang ia sudah jarang pergi ke monas karena faktor pekerjaan dan monas dirasakannya sudah tidak seperti dulu lagi.


             “Jakarta udah punya semua, tapi kendalanya cuma di macetnya” paparnya ketika ditanya mengenai apa yang diinginkan dari kota Jakarta. Ismet berharap ditengah banyaknya gedung bertingkat yang sekarang menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi Jakarta, Jakarta memerlukan banyak taman. Taman dirasa penting bagi Ismet untuk jakarta agar polusi di Jakarta dapat berkurang dan Jakarta lebih hijau dan asri.



Created by,
Ilona Dea




posted by Ilona Dea

Saturday, September 20, 2014

JAKARTA REPOSE PROJECT #3

Clarence Ryan - 20 tahun

                 Kuliah merupakan salah satu kesibukan yang mungkin sedang dialami oleh kebanyakan remaja berusia 20 tahun saat ini. Kesibukan ini juga yang dirasakan oleh salah satu mahasiswa Prasetiya Mulya Business School angkatan 2012 yang mengambil jurusan finance, Clarence Ryan.  Sudah sekitar 2 tahun belakangan ini, Clarence Ryan atau yang lebih akrab disapa Clarence ini menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa. Jadwal kuliah yang padat disertai tugas menghiasi hari-harinya selama menjadi mahasiswa di Prasetiya Mulya, meski begitu ia tetap merasa enjoy dalam menjalani hari-harinya. Tidak jarang ia juga menyempatkan waktunya untuk mengikuti kompetisi di bidang akademik. Saat ini Clarence sedang mempersiapkan dirinya untuk mengikuti kompetisi CFA Research Challenge yang di adakan oleh BEI (Bursa Efek Indonesia) dan CFA institute. Ketika ditanya seberapa sering ia mengikuti kompetisi akademis seperti ini, ia pun menjawab dengan penuh percaya diri “belakangan ini iya karena udah mau lulus, biar persiapan buat masa depan aja”. Pepatah yang mungkin cocok untuknya adalah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bekal dimasa depan yang membuat Clarence rela mengorbankan waktunya lebih banyak untuk mendapatkan pengalaman bagi masa depannya, karena menurutnya masa depan yang kita raih tergantung dengan bagaimana kita menjalankan hidup kita saat ini.

            Pria kelahiran 26 maret 1994 ini merasa waktu luang sangatlah penting, karena dengan adanya waktu luang ia dapat menenangkan pikiran dan sedikit menghilangkan rasa jenuhnya. “Penting banget buat refreshment, kadang-kadang cape sibuk kuliah biar bisa  semangat lagi perlu waktu luang bareng temen-temen, keluarga, atau pacar” tambahnya menjelaskan alasan pentingnya waktu luang dalam kesibukannya sehari-hari. Clarence dan teman-teman sekelompoknya juga memiliki taktik yang unik sebelum mereka mengerjakan tugas kelompok. Mereka sering menyempatkan waktunya sejenak untuk sekedar nongkrong sebelum mengerjakan tugasnya. Nongkrong mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu aktivitas yang sering ia jalani untuk mengisi waktu luang. Biasanya Clarence lebih sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong di  Mall atau Café di daerah Jakarta Pusat dan kawasan SCBD. Semakin menjamurnya tempat nongkrong baru yang menyediakan suasana yang berbeda dan unik, Clarence merasa hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa saja dan lebih memilih tempat nongkrong yang memang sudah sering ia datangi. “Kalo sekarang gua males banget coba-coba tempat yang baru karena semua sama aja” ujarnya menjelaskan alasannya tetap memilih tempat yang sering ia datangi sebagai tempat nongkrong bersama dengan teman-temannya.

            Selama ia menjalani aktivitas yang rutin ia jalani ini, ia pun pernah merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Pengalaman ini memang  bukan terjadi langsung pada dirinya, namun pengalaman ini berhasil membuat suasana nongkrong Clarence pada saat itu menjadi tidak enak. Pengalaman buruk tersebut adalah ketika teman wanita Clarence mengunjungi suatu tempat dengan menggunakan sandal padahal tempat tersebut mengharuskan setiap pengunjung wanita yang datang untuk menggunakan heels, secara tidak langsung mereka semua harus kembali lagi ke mobil untuk mengambil heels tersebut. Suatu kejadian yang sedarhana namun berhasil membuat Clarence tidak memiliki semangat untuk nongkrong. Dalam memilih tempat nongkrong sebenarnya Clarence lebih memilih tempat nongkrong yang berada di luar Mall karena suasana Mall yang begitu-begitu saja dan sulitnya mencari parkir di hari libur semakin membuat Clarence yakin untuk memilih Café diluar Mall. Pria yang tinggal di daerah PIK – Jakarta Utara ini, mengaku sangat tidak suka dengan suasana Café yang ada di PIK, ia lebih rela pergi jauh di daerah Jakarta Pusat dibandingkan harus nongkrong di PIK. Hal ini disebabkan Café yang ada di PIK sudah terlalu ramai dikunjungi banyak orang. Clarence memang merupakan individu yang mementingkan leisure time nya, namun begitu ia tetap menjadikan tugas kuliah sebagai prioritas utama. ”Terpaksa gua lupakan, gua pendekin atau ga sama sekali karena tugas itu” tambahnya menjelaskan alasannya tidak melakukan leisure time nya.

            Pernah terpikir dalam benaknya, bahwa kegiatan nongkrong yang sering ia jalani ini juga membosankan, sehingga ia perlu melakukan hal lain seperti nonton konser maupun performance art. Pria yang sedang ikut serta dalam project broadway ini merasa bahwa sebenarnya konser maupun performing arts dapat menjadi sarana hiburan baru bagi masyarakat Jakarta. Meski begitu ia pun menilai bahwa sekarang ini masyarakat Jakarta memang belum bisa menghargai arts itu sendiri sehingga hal tersebut yang menjadi alasan masih minimnya performing art yang ada di Jakarta. Selain performing arts, Clarence juga sesekali datang ke acara konser musik terutama konser DJ anak muda seperti DWP (Djakarta Warehouse Project). Euphoria menjadi hal yang terpenting ketika nonton konser karena menurutnya meskipun artis yang perform sebagus apapun jika euphorianya jelek konser itu akan menjadi jelek.

            Kegemarannya menonton konser DJ anak muda ternyata didasari oleh kesukaannya untuk pergi ke club. Clarence memang selalu membuat jadwal kapan ia harus pergi ke club. Maksimal 2 kali dalam sebulan merupakan jadwal yang sudah ditetapkannya untuk pergi ke club. “Clubbing yang serunya ngeliatin orang mabok aja gitu, itu kan kocak. Kalo clubbing tapi ga ada yang kaya gitu pasti ga memorable” ungkapnya menjelaskan pengalaman terbaik yang ia dapat ketika pergi ke club. Jujur diakui Clarence, sering kali clubbing menjadi obat yang mujarab untuk sekedar melepas stres dari tugas-tugas kuliah yang ia jalani. Dalam memilih club ia pun memiliki banyak pertimbangan seperti tidak boleh yang terang, usia orang yang datang seusia dengannya, dan suasanya harus berkelas akan mempengeruhi euphoria yang akan dirasakannya. Meski begitu, usia pun menjadi pertimbangannya untuk ke club “kalo sekarang udah lebih ke 20 tahun, mendingan nge-chill nongkrong tapi sambil minum” paparnya ketika diminta memilih antara clubbing atau nongkrong.


            Clarence merasa objek wisata yang ada di jakarta sebenarnya menarik namun kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari warga Jakarta sendiri untuk mengelolanya. Ia pun merasa, Jakarta perlu banyak open space, hal tersebut dirasa penting karena ia merasa kesulitan saat ingin mengajak pacarnya itu pergi ke open public space sehingga membuatnya harus jauh-jauh pergi ke Taman Bunga Nusantara. Ia pun akan merasa tertarik jika tempat seperti itu ada di Jakarta. Harapannya untuk Ibu Kota Jakarta “disiapin kaya satu lokasi masterplan yang intinya rekreasi banget. Mulai dari nonton film sampe performing arts. Disitu juga ada tempat nonton, nongkrong, makan, sampe clubbing juga ada” paparnya dengan penuh semangat. Ia pun dnegan penuh antusias menceritakan project Jakarta Great Wall yang akan berlokasi di Jakarta Utara. Project yang akan rampung pada tahun 2030 ini sangat menarik karena berlokasi di satu pulau yang berbentuk burung garuda. Sehingga masyarakat Jakarta tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke bali untuk mendapatkan suasana pantai. Sebagai generasi penerus bangsa, Clarence berharap kedepannya Jakarta dapat membuka diri dan melihat tempat Casino sebagai tempat hiburan yang menyenangkan karena melalui hal itu juga dapat menambah devisa bagi negara. Selain casino, Clarence berharap banyak diadakan performing arts di Jakarta dan masyarakat Jakarta mulai bisa menghargai arts itu sendiri karena sebenarnya arts dapat menjadi salah satu prospek yang baik untuk Jakarta kedepannya.


Created by,
Ilona Dea 






posted by Ilona Dea

Friday, September 19, 2014

JAKARTA REPOSE PROJECT #2

Astari Laskmiwati - 28 tahun

Astari laskmiwati, saat ini sedang menikmati pekerjaannya sebagai konsultan komunikasi. Wanita berusia 28 tahun ini menjabat sebagai community co-writer di salah satu perusahaan Public Relation, Maverick. Sebagai Community Co-Writer, pekerjaannya ini sangat dekat dengan berbagai komunitas yang ada di Jakarta. Menurutnya, dengan adanya kegiatan seperti online maupun offline dapat membentuk semakin banyak komunitas yang ada di Jakarta. Bekerja di perusahaan Public Relation yang mayoritas client-nya adalah perusahaan dan marketing communication, Astari Laskmiwati atau yang lebih dikenal dengan sebutan Atri ini berpendapat bahwa setiap komunitas dapat dirangkul untuk dapat berkolaborasi dengan client-client-nya.

Waktu luang yang dijalani wanita yang hobby dengan nonton film ini tidak jauh-jauh dari dunia online. Sering kali pada saat waktu luang ia menyempatkan diri untuk melakukan pencarian di internet mengenai event yang diadakan beberapa komunitas di Jakarta, terutama event yang diadakan komunitas film dan komunitas musik. Atri pun mengaku sebagai orang yang bekerja rutin dari senin hingga jumat kegiatan yang dilakukannya ketika memiliki waktu luang ialah tidur dan menghadiri acara komunitas. “Kalo orang kantoran yang standartnya nine to five itu, tidur merupakan salah satu kemewahan” ujarnya menjelaskan alasan memilih tidur untuk mengisi waktu luangnya. Kegiatan lain yang sering dilakukan oleh Atri salah satunya adalah menonton film. Ketertarikannya terhadap film diakuinya sudah sejak ia duduk di sekolah dasar. “Film merupakan suatu tingkatan karya seni yang komplit, bisa dapet audio, bisa dapet visual, dan bisa dapet segala macem. Di film itu bisa ada tari, musik”, ungkapan ini merupakan kalimat yang pertama kali keluar ketika ditanya mengenai alasan Atri sangat menyukai nonton film. Kecintaannya terhadap film kerap kali membuat budget yang biasa ia sisihkan untuk kebutuhan sehari-hari dan waktu luangnya ini jebol ketika summer movies yang ditunggu-tunggu oleh Atri dan teman-temannya sudah tayang. Menurutnya keseruan yang didapat ketika menonton film justru terjadi setelah film itu selesai ia tonton, hal tersebut dikarenakan ia dapat bertukar pikiran dengan teman-temannya yang memang mengerti tentang film dan mengapresiasi film tersebut.

“Bioskop kita itu kadang-kadang tidak memfilter film yang cocok untuk audience-nya” Ungkap Atri sebagai hal yang masih sangat disayangkan olehnya. Ungkapan ini bukan tanpa alasan, sering kali ketika ia menonton ia masih merasa terganggu dengan kebanyakan orangtua yang suka membawa anak bayinya untuk ikut masuk kedalam bioskop. Hal tersebut dirasa kurang pantas dan egois karena hanya dengan keegoisan orangtua yang ingin menonton,  mereka bisa saja mangganggu setiap orang yang ada didalam bioskop tersebut dikarenakan suara bising yang mungkin ditimbulkan oleh sang bayi. Terlepas dari pengalaman yang seringkali mengganggunya ketika menonton film, Atri pun dengan bersemangat membagikan  pengalaman terbaiknya saat menonton film. Kejadian yang tidak akan pernah bisa Atri lupakan ketika ia nonton film Indonesia yang memang sudah ia ketahui kurang bagus dan ditambah dengan lokasi bioskop yang didaerah terpencil merupakan pengalaman nonton bareng paling menyenangkan seumur hidupnya. Alasannya pun cukup menarik karena pada saat itulah ia dapat merasakan suasana tertawa sampai menangis karena hanya pada saat itulah ia menonton film yang paling bocor, paling kacau, dan paling menyenangkan seumur hidupnya. Wanita yang sangat menyukai film horor, drama, dan sight fiction ini mengaku dirinya selalu membaca refensi dari situs-situs film dan blog film yang ia sukai. Tidak hanya membaca, sering kali ia pun melakukan review film yang telah ia tonton pada blog pribadinya.

“Satu lagi pengalaman menyenangkan nonton film itu pas festival film.” tambahnya sambil menjelaskan festival film yang ia sukai. Atri juga sangat tertarik dengan festival film J-Fest, festival film prancis, festival film europe on screen, dan INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival). Menurutnya banyak sekali festival film Indonesia seperti J-Fest dan INAFFF yang saat ini masih kesulitan biaya, padahal kualitas film yang ditawarkan dapat menjadi salah satu objek wisata untuk Jakarta. “paling menyenangkan nonton film dengan teman sesama apresiator dan sama-sama ngerti kerennya film itu dimana” ungkapnya menjelaskan pengalaman berbeda saat ia mendatangi premier film The Raid dengan sesama temannya dibandingkan dengan nonton kedua kalinya di bioskop biasa.

Musik merupakan gemaran lain yang dimiliki oleh wanita yang sudah berkeluarga ini. Atri pun sering kali datang ke konser band yang memang ia sukai, “Dateng konser itu paling enak kalo bisa sing along.” ujarnya menjelaskan. Pengalaman nonton konser yang paling berkesan adalah ketika ia menonton band legendaris asal Jepang yang ia sukai sejak SMP yakni L’Arc-en-Ciel dan konser tersebut merupakan salah satu konser terbaik yang pernah ia datangi. Disamping itu ia pun merasa bahwa persiapan konser memang harus benar-benar di persiapkan secara matang oleh pihak panitia, karena hal tersebutlah yang membuat Atri dan suami merasa kurang nyaman saat menonton konser beberapa waktu yang lalu.


Ketika ditanya mengenai objek wisata yang ada di Jakarta, ia pun masih merasa prihatin dengan objek wisata yang ada di Jakarta, khususnya museum. Hal tersebut dikarenakan tidak sedikit museum di Jakarta yang tidak terurus dengan baik, padahal jika kita bandingkan dengan luar negri justru museum disana menjadi daya tarik bagi masyarakat nokal maupun non lokal. 'More public space' merupakan harapan Atri untuk kota Jakarta kedepannya. Taman film merupakan salah satu hal yang menarik yang perlu ada di Jakarta, hal ini didasari oleh pengetahuan Atri bahwa ternyata terdapat tempat yang sengaja disulap oleh suatu komunitas film untuk mengadakan acara nonton bareng di taman tersebut. ia pun berharap di Jakarta banyak tempat seperti hutan Mangrove yang berlokasi di PIK, karena menurutnya tempat-tempat open space seperti itu dapat menjadi alternatif bagi warga Jakarta yang ingin mencari suasana baru ditengah kepenatan dalam bekerja dan keramaian pusat perbelanjaan yang ada di Ibu kota.




Created by,
Ilona Dea





posted by Ilona Dea

Wednesday, September 17, 2014

JAKARTA REPOSE PROJECT #1

Vera - 20 tahun
Vera, begitulah panggilan akrab untuk wanita satu ini. Wanita berusia 20 tahun ini sehari-harinya bekerja sebagai cleaning service di salah satu apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Tidak dapat dipungkiri, pekerjaan yang ia lakukan sehari-hari cukup menguras tenaganya. Hal teserbut dikarenakan ia harus bekerja sejak pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore. Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum pria ini, rela Vera jalani untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Vera ditugaskan untuk membersihkan seluruh area lobby setiap harinya. Selama bekerja tidak jarang ia merasa lelah dan tidak jarang juga ia mencoba mencuri-curi waktu luang hanya untuk sekedar beristirahat. Menurut Vera sendiri tidur dan beristirahat adalah waktu luang yang paling mudah dan paling sering ia lakukan setiap harinya.

Waktu luang menurut vera sangatlah penting. Vera merupakan tipe orang yang menganggap waktu luang itu harus ada, meskipun caranya hanya dengan sekedar beristirahat di rumah. Dalam mengisi waktu luang, wanita yang bertempat tinggal di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan ini selalu menghabiskannya dengan beristirahat dirumah hanya untuk sekedar tidur dan main game. “Kalo main-main, nongkrong-nongkrong aku ga suka,  aku lebih suka dirumah aja tiduran dan nonton tv” ujarnya menjelaskan alasannya untuk lebih memilih beristirahat dirumah. Beristirahat dirumah merupakan aktivitas yang dipilih Vera untuk mengisi waktu luang, karena ketika ia berada dirumah khususnya didalam kamar ia dapat merasakan ketenangan yang tidak dapat ia dapatkan di Jakarta saat ini. Jika dibandingkan dengan pusat-pusat perbelanjaan yang sedang marak di Ibukota, ternyata Vera anak bungsu dari tiga bersaudara ini lebih memilih pergi ke alam seperti pantai untuk menghabiskan waktu luangnya. Ketika ditanyakan alasan mengapa ia suka dengan alam khususnya pantai, Vera menjelaskan dengan sangat antusias  “di pantai tenang aja gitu, seneng aja ngeliatnya walaupun cuma ngeliat air tapi seneng” ujarnya dengan wajah yang berseri-seri. Pantai dirasa sangat cocok untuk kepribadiannya yang tidak begitu suka dengan keramaian, alasan ini juga yang membuat Vera tetap kokoh dengan pendiriannya untuk memilih beristirahat dirumah dibandingkan harus pergi ke pusat-pusat perbelanjaan.

            Meskipun begitu, Vera tetap memiliki rasa antusiasme yang sangat tinggi dengan suasana pantai untuk sekedar mengisi waktu luangnya. Ia pun memiliki harapan untuk dapat menjelajahi Pulau Seribu yang terdiri dari beberapa pulau-pulau lain seperti Pulau Tidung dan Pulau Untung Jawa. Vera pun tidak canggung menceritakan pengalamannya pada saat pergi ke pulau seribu bersama teman-temannya. Menurut Vera, ditengah rutinitas pekerjaan yang setiap hari ia lakukan, sesekali pergi ke pantai merupakan pengalaman paling menyenangkan yang pernah ia lakukan. Sebut saja pengalaman Vera ketika pergi ke Pulau Seribu bersama teman-temannya. Pergi dengan keadaan seadanya , hanya menggunakan motor dan harus nyasar berjam-jam untuk mencari jalan tetap rela dijalani Vera. Ia pun merasa terpuaskan ketika sampai ke Pulau Seribu karena pemandangan dan suasananya yang sontak membuat hatinya merasa tenang. Kepergiannya saat itu merupakan pengalaman paling menyenangkan dalam hidupnya.

Menurut wanita yang sangat suka dengan band metal ini, awal mula kecintaannya terhadap suasana di pantai dikarenakan tempat wisata di Jakarta tidak ada yang menarik lagi baginya. Hanya event-event tertentu serta paksaan dari teman-temannya lah yang akhirnya membuat Vera mau beranjak dari kamarnya. Konser metal merupakan satu event yang sering dikunjungi oleh Vera. Berlokasi di kawasan Bulungan, Vera beserta teman-temannya suka menghabiskan waktunya nonton konser metal kesukaan mereka. Diakui Vera dahulu ia tidak menyukai jenis musik dengan genre metal ini, ia pun mulai mengenal dan menyukai band metal sejak mempunyai pacar anak band metal.  Vera pun merupakan salah satu penggemar band metal Indonesia yakni “Dead Squad”. Tidak hanya konser band "Dead Squad" saja yang sering ia datangi, ia pun mengaku sering diajak temannya untuk menonton band metal Indonesia lainnya.  Seiring dengan berjalannya waktu, wanita yang dahulu merupakan “sahabat Peter Pan” ini lambat laun merubah aliran musiknya dan saat ia ini tergabung dalam suatu komunitas pecinta band metal. Pengalaman lucu sekaligus mengerikan yang sering dialaminya adalah ketika melihat tingkah perilaku orang disekitarnya yang berjoget dengan gaya sambil tonjok-tonjokan dan berdarah-darah dianggap Vera sebagai sesuatu hal yang menarik namun juga sekaligus menyeramkan ketika menonton konser band metal.


Jujur diakuinya, dalam menunjang waktu luangnya untuk menonton konser dan pergi ke pantai, Vera mengaku tidak menargetkan biaya tertentu setiap bulannya untuk melakukan hal yang ia senangi. Baginya waktu luang memang penting, namun tidak selalu harus rutin dilakukan. Sebagai warga Jakarta, Vera memiliki harapan khusus bagi kota Jakarta, Vera berharap Jakarta tidak hanya dipenuhi dengan pusat-pusat perbelanjaan, namun dapat menghadirkan event-event yang seru dan tidak biasa seperti event rumah hantu. Objek wisata yang menyediakan permainan-permainan extream juga merupakan salah satu harapan Vera agar Jakarta memiliki objek wisata yang bervariasi dan menyenangkan. 



Created by,
Ilona Dea





posted by Ilona Dea